cita2EKO

Desember 1, 2008 at 9:18 am Tinggalkan Komentar

CITA-CITA EKO

Siang ini panas sekali. Tak sabar aku untuk segera sampai di rumah.
“Haus sekali”, batinku.
Beberapa langkah kemudian aku sudah sampai di rumah. Setelah mencuci tangan, beberapa tegukan air es mengali segar ditenggorokan. Setelah shalat zuhur aku bergegas ke dapur, makan. Cacing di perut rasanya sudah menjerit-jerit kelaparan.
Selesai sudah. Yah, hari ini ada les computer. Mau tidak mau, rencana tidur siang harus di tunda dulu.
Baru aku masuk ke kamar, kulihat eko, adikku yang kelas dua SD, sedang duduk di ruang tamu. Dia atas meja banyak buku pelajaran yang berserakan, tapi Eko malah sibuk melamun.
“Eh, Ko, alau belajar itu jangan melamun”, tegurku.
“Eko bukannya melamun kak, Eko sedang mikirin PR Eko nih, jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala. Pipinya yang tembem terlihat turun karena bingung.
“Lho, kenapa?”tanyaku sembari duduk disampingnya.
“Kata Bu guru, Eko harus buat cerita tentang cita-cita Eko, tapi, Eko nggak tahu cita-cita Eko apa. Kakak tahu cita-cita Eko…”, jawabnya cepat
“Ehm…gini,, coba kamu bayangkan kalo nanti kamu gede seperti papa, kamu mau jadi apa?” kataku
Eko mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala.
“Gimana kalo dokter?”, aku mencoba memberinya pilihan karena sepertinya dia benar-benar bingung dengan cita-citanya itu.
“Nggak ah, kak, teman-teman Eko sudah banyak yang mau jadi dokter”. Jawabnya.
“Lho, memangnya kenapa kalo banyak yang mau jadi dokter?” sahutku pula heran.
“Yah nantinya pasiennya nggak ada dong kak, semuanya sudah bisa berobat sendiri. Nah, Eko mau ngobatin siapa?”
“Hmm…pilot?”, tawarku lagi.
Eko menggelengkan kepala.
“Insinyur?”
Dia kembali menggelengkan kepala.
“Apa lagi yah,… “ kataku sambil mikir-mikir. Aduh! Jam dinding sudah menunjukkan jam 14.30. hari ini aku ada les computer jam tiga. “Kakak pergi les dulu ya Ko, nanti kakak pulang kita cari lagi cita-cita Eko, Oke?” Dengan sedikit tergesa aku segera kekamar untuk ganti baju.
Tak lama kemudian aku sudah siap. Pas keluar kamar ku lihat Eko sedang asyik nonton televisi.
“Ko, kakak pergi dulu, bilangin sama bik Inah, ya”
“Iya kak. Eh kak, ada nggak orang yang kerjanya mungutin sampah”. Tanya Eko.
“Oh, itu namanya pemulung”, jawabku sambil tergesa-gesa memakai sepatu. “Sudah ya Ko, kakak pergi. Assalamualaikum”, jawaban salam dari Eko tak terdengar karena aku langsung berlari mengingat sudah hampir jam tiga.
* * *
Menjelang magrib aku baru sampai di rumah, soalnya sebelum pulang aku ke rumah echa dulu buat ngerjain PR matematika. Tepat sampai di depan rumah, eskrim yang ku beli di toko Yu Nani pun ludes. Pluk!. ku lempar stik es krim ke tempat sampah,” ah, meleset”, gumamku sambil berlalu pergi ke dalam.
Selesai mandi aku melihat Eko yang sedang asyik menulis.
“Eh, kak, PR Eko sudah selesai’. katanya begitu melihatku.
“O, ya. Hebat dong kamu. Jadi, apa nih cita-cita kamu?” kataku senang mengetahui PR nya sudah selesai.
“Pemulung sampah” jawab Eko polos.
“Hah!”, air putih yang sedang kuminum hampir tersedak mendengar kata Eko barusan.
“Beneran Eko mau jadi pemulung sampah?” tanyaku heran sekaligus tak percaya.
“Iya. Kakak tahu nggak, tadi siang pas kakak pergi, Eko lihat di televisi ada kebanjiran lagi, kak. Dari berita itu, Eko dengar kalo penyebab utamanya adalah timbunan sampah yang menyumbat aliran air sungai. Karena itu kak, Eko mau jadi pemulung saja, biar sampah-sampahnya Eko ambil semua dan sungainya bisa mengalir lagi. Jadi, banjir tidak akan terjadi, yak an kak?” jelas Eko panjang lebar.
Aku yang tadinya agak terkejut mendengar cita-cita Eko juga manggut-manggut sendiri. Benar juga yang dikatakan Eko. Sekarang setelah mendengar penjelasan Eko, aku terperangah.
“Ya ka, kak?” Eko mengulang pertanyaannya.
“Eh, iya”, kataku terkejut.
“Nah, Eko mau mandi dulu ya kak”, kata Eko sambil berjalan ke dalam.
Aku merasa malu didepan adikku, di usianya yang masih delapan tahun, kelas dua SD, dia sudah memikirkan hal yang bisa dia lakukan untuk orang lain. Sedangkan aku, sudah kelas dua SMP masing sering lupa dan kurang peduli pada orang disekitarku. Aku jadi belajar banyak dari Eko. Ah, aku juga jadi termotivasi untuk menjaga kebersihan. Paling tidak, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sampah? Ups! Aku jadi teringat stik eskrim yang meleset dari tempat sampah tadi. Tanpa buang waktu aku segera ke teras.
“Nah, begini baru benar”, kataku pada diri sendiri setelah memasukkan stik es krim itu ke tempat yang seharusnya. Aku janji aku nggak akan buang sampah sembarangan lagi. Seperti kata Aa Gym, 3M. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

NOKENG ***

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS sastra belitong

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 202 hits

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Flickr Photos

BIT CLOSER. I TELL YOU A SECRET.

More Photos

Tulisan Terkini

Feed


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.