NOKENG

Desember 1, 2008 at 9:16 am Tinggalkan komentar

NOKENG KENANGAN UNTUK IBU

“Huh”, keluhku. Masih 5 KM alias sekitar satu jam lagi aku mesti berjalan. Aku mempercepat langkahku, hari ini aku akan kerumah Oma Tua untuk meneruskan pelajaran nokengnya. Yah, sejak ibu pergi menghadap Tuhan satu bulan yang lalu aku terpaksa belajar membuat nokeng kepada Oma Tua, salah seorang tetua di suku kami. Sebelumnya, ibuku lah yang mengajari ku membuat nokeng – tas khas orang papua yang di pakai di atas kepala.-. Aneh memang, tapi untuk membuatnya perlu ketekunan besar. Membuat nokeng tidak boleh sembarangan. Ibu jugalah yang memberitahuku tentang itu, kata ibu, nokeng mempunyai motif-motif tersendiri, setiap motif nokeng yang dibuat mengandung arti dan pesan masing-masing. Pada zaman dulu, saat hutan masih ramah, nokeng dibuat dari kayu kecil yang dihaluskan. Tetapi sekarang, karena kulit kayu sudah sulit dicari, maka orang papua menggantinya dengan benang wol.
Awalnya, membuat nokeng sama sekali tidak menarik perhatianku, jika boleh memilih, aku lebih senang ikut ayah berburu daripada harus belajar membuat nokeng, tapi sudah menjadi ketentuan dalam suku kami, Suku Anaminjae yang terletak di sebelah utara papua, kabupaten Timika, bahwa setiap anak gadis Anaminjae harus bisa membuat nokeng. Ibu pertama kali mengajariku membuat nokeng pada saat usiaku menginjak 17 tahun, setahun yang lalu. Waktu itu belum berapa lama dia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Agama yang diperkenalkan oleh seorang kyai ketika bertandang ke suku kami. Dari isteri kyai itulah ibu belajar tentang islam. Menurutku, isteri kyai itu berpakaian dengan aneh sekali. Semua pakaiannya kebesaran, hanya muka dan telapak tangannya yang terlihat. Nama pakaian itu jilbab katanya. Tadinya orang kampong ku, termasuk aku, merasa risih melihat cara berpakaian isteri kyai itu, tapi sikapnya yang sangat anggun, membuat dia bisa diterima di suku kami yang mayoritas penduduknya masih menganut paham anemisme. Ketika ibu memutuskan untuk masuk Islam, ayah sempat marah besar. Bagaimana tidak, ayah adalah kepala suku Anaminjae, dan tiba-tiba saja isterinya sendiri memutuskan untuk meyakini agama lain, yang artinya mengkhianati kepercayaan nenek moyang kami. Saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat keteguhan ibu, dia bersikeras dan memohon pada ayah agar membiarkannya sekali saja untuk bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya. Bahkan, ibu sempat mengatakan bahwa kalau ayah tetap tidak bisa menerima keputusanya, dia ikhlas untuk berpisah dengan ayah. Dan akhirnya, entah karena apa, ayah luluh…
Pada mulanya, sejak ibu menjadi seorang muslimah, aku sedikit enggan dan menjaga jarak dengannya. Aku mengira ibu akan berubah. Tapi ternyata dugaanku salah, dia justru jauh menjadi lebih perhatian kepada aku dan ayah. Dia terlihat lebih optimis dan bersemangat hidup. Hati kecilku sempat bertanya, apa benar Islam bisa membuat orang menjadi lebih baik…?
* * *
Aku sudah keluar dari hutan, sekarang aku tinggal menyusuri jalan setapak, berarti kira-kira 2 KM lagi aku akan sampai di rumah Oma Tua. Aku menyeka peluh di keningku. Aku harus semangat, batinku. Nokengku yang kedua ini sudah hampir selesai dan rencananya aku akan menyelesaikannya hari ini karena pembelinya akan datang hari ini juga.
… Nokeng ini untuk ibu…
Jalan setapak yang rindang membuat aku kembali teringat masa-masa aku dan ibu melewati jalanan ini ketika kami mencari bubuk sagu ke hutan untuk dijadikan bubur sagu, makanan kesukaanku, ketika kami mencari dedaunan untuk obat batuk ayah… Sepanjang perjalanan ibu sempat bercerita tentang masa mudanya, ketika dia mengenal ayah pertama kali, di hari pernikahan mereka. Ya… ibu memang dijodohkan dengan ayah. Waktu itu ibu baru saja tamat Sekolah Menengah Pertama. Tadinya, ibu ingin melanjutkan sekolah ke Kabupaten, tapi ternyata kakek memutuskan lain. Orang tua dari ayah dan ibuku ternyata telah berjanji untuk menikahkan anak mereka demi menjaga tradisi leluhur Anaminjae. Ibu sempat menolak, tapi apalah daya, perjanjian tetaplah perjanjian. Melanggar perjanjian secara sepihak dalam suku kami sama artinya dengan menghina orang yang dijanjikan tersebut. Menghina, berarti menyulut api peperangan. Hingga akhirnya, ibupun menikah dengan ayah.
“Apa ibu menyesal menikah dengan ayah?? Tanyaku waktu itu.
“Awalnya iya, karena akhirnya cita-cita ibu untuk membangun Timika dari ketertinggalan harus padam. Tapi lambat laun ibu mengerti bahwa setidaknya, ibu sudah menolong wanita-wanita Anaminjae untuk tidak menjadi yatim. Karena kalau ibu bersikeras untuk sekolah, bisa jadi, perang antar suku yang sangat rentan terjadi di bumi Timika akan terjadi. Mungkin dengan cara itulah yang Allah berikan pada ibu agar bisa berbakti pada tanah air ibu”.
Saat itu aku merasakan betapa bijaksananya beliau…
Sambil menyusuri jalan setapak itu, Ibu hanya menasehatiku, dia bilang, untuk itu aku harus bersyukur, sekarang wanita Anaminjae punya lebih banyak kesempatan untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka, untuk mencapai cita-cita mereka.
Saat itu merupakan saat terakhir aku dan ibu menghabiskan waktu berdua karena dua hari setelah itu, ibu meninggal dunia karena tersengat kalajengking di hutan. Terakhir, sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, ibu sempat bilang padaku,
“Emma, ibu ingin sekali memakai jilbab seperti isteri pak kyai… tapi sepertinya, ibu tak sempat memakainya di dunia ini, doakan ibu bisa memakainya di hadapan Allah ya anakkku…”
Sampai hari ini, kata-kata itu jugalah yang menjadi motivasiku untuk terus belajar membuat nokeng…
* * *
“Emma!”
Seseorang memanggilku. Aku segera tersadar dari lamunanku. Cepat-cepat aku menghapus air mata yang mengalir sejak tadi tanpa suara dipipi.
Yani. Dia melambaikan tangannya. Dia sudah berdiri didepan rumah Oma Tua.
“Tumben, batinku, biasanya anak ini selalu datang terlambat, cepat sekali dia berangkat hari ini”. Aku membalas lambaian tangannya sambil tersenyum.
Aku bergegas berjalan ke arah Yani. Kenangan bersama ibu yang menemani perjalanan jauh ku tadi membuatku merasakan semangat baru. Yah, nokengku harus selesai hari ini, jadi aku bisa langsung menjualnya. Nokeng itu nantinya kan kuberikan pada ibu, dalam bentuk jilbab… meski dia tak sempat memakainya…
(“tapi mungkin nanti, akulah yang akan memakai jilbab itu untuknya…”, batinku dalam)

By : Sartika Pratiwi (A1B204054)

Jambi, 14 Desember 2007
(Untuk Mama’, my guardian angel di tungkal yang setegar ibu Emma…)

Entry filed under: short story. Tags: .

My poems cita2EKO

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS sastra belitong

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 198 hits

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Flickr Photos

Fields of Gold

More Photos

Tulisan Terkini

Feed


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.