this is all about us..wanna read more. klik my sisters… (lebih…)

Februari 4, 2009 at 9:34 am Tinggalkan komentar

Check out my Slide Show!

Januari 22, 2009 at 4:23 am Tinggalkan komentar

Maryamah Karpov tak bernyawa

76px-maryamahkarpov1

setelah punya uang cukup dan bela2in ngerela2in uang beasiswa,dapat deh nih buku. alhamdulillah..

awal baca masih semangat 45 coz ceritanya dari 123 tetralogi laskar pelangi baru terasa banget..
palagi da cerita2 lucu, konyol tapi realistis yang mewarnai cerita. cuman…
aga sekikit kecema nih sama mas andrea, coz ceritanya di tengah2 kok banyakan mistis dari realistis. padahakl ini kan novel non-fiction..”(
dan rasanya,if i’m not misinterpret.. buku ini rada ditambah2in dengan lagu bunga seroja buat A-ling yang as i know cumaa ada di film-nya LP.kalo difilmnya asik,tapi kalo di MK kok tersa dinyambung2in gitu ya..(maaff)

tai whateverlah,mas Andrea masih tetap jagolah dalam bahasa ilustrasinya yang sedikit nyeleneh,he2..georgeous!lah buat mas andrea

Januari 9, 2009 at 5:47 am Tinggalkan komentar

ooo rangnya!

tahu kah amun urang banjar tu dari mana’ haja datangnya.
amun kada’ tahu baca ai ni, dari wikipedia nang mancaritakan macam mana nia urang banjar tu.
Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia
Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.
Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.
Keadaan mayarakat Kalimantan Selatan antara tahun 1900-1942 :
Pada tahun 1905 perlawanan terakhir para gusti (gelar bangsawan Banjar) ditumpas, tetapi sisa-sisanya masih mengadakan perlawanan kecil-kecilan yang cukup membahayakan Belanda. Kerja rodi (bahasa Banjar : erakan) dan pajak kepala yang dianggap sangat memberatkan, mengakibatkan dalam periode ini banyak sekali orang Banjar terutama dari Hulu Sungai mengungsi keluar Kalimantan Selatan pergi ke Sumatera dan Malaysia Barat. Terhadap tekanan rodi menimbulkan keresahan sosial dan perlawanan dari anak cucu orang sepuluh Amuntai, pemberontakan Nanang Sanusi (1914-1918), dan pemberontakan Gusti Barmawi di Kelua, Tabalong. Antara tahun 1914-1919 akibat perang dunia I, Kalimantan Selatan kekurangan beras yang luar biasa, hingga terkenal dengan nama “zaman beras larang” dan “zaman antri beras”, hidup rakyat menjadi sangat susah sekali. Sejak tahun 1920-an, akibat rodi ini telah pindah banyak sekali penduduk Hulu Sungai ke daerah Sapat dan Tembilahan, Indragiri Hilir, di pantai timur Sumatera dan Malaysia. Kejengkelan rakyat terhadap segala pajak, landrente, pajak pasar, pajak yang dikenakan pada orang yang naik haji, dan kerja rodi (bahasa Banjar : erakan) pada masa itu juga telah diajukan keberatan-keberatan melalui organisasi Sarekat Islam maupun organisasi lainnya yang ada di daerah ini. Rakyat mengetahui bahwa otonomi dalam bentuk Gemeente raad yang diberikan pemerintah kolonial hanyalah untuk kepentingan orang-orang kulit putih semata. Dalam bidang pendidikan dirasakan tekanan-tekanan politik terhadap sekolah-sekolah swasta seperti Taman Siswa dan sejenisnya. Dalam bidang politik, partai-partai non koperasi atau bukan keduanya mengalami tekanan yang berat sehingga partai-partai non koperasi menjadi lumpuh. Demikian pula partai-partai penggantinya yang bersifat koperasi seperti Parindra dan Gerindo juga mengalami berbagai tekanan seperti yang dialami tokoh Parindra Kalsel, Ahmad Barmawi Thaib dan Hadhariyah M
Banyak suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan. Organisasi suku Banjar di Malaysia adalah Pertubuhan Banjar Malaysia

Desember 16, 2008 at 5:15 am 4 komentar

***

05052008095

this is my friends….

Desember 16, 2008 at 4:58 am Tinggalkan komentar

cita2EKO

CITA-CITA EKO

Siang ini panas sekali. Tak sabar aku untuk segera sampai di rumah.
“Haus sekali”, batinku.
Beberapa langkah kemudian aku sudah sampai di rumah. Setelah mencuci tangan, beberapa tegukan air es mengali segar ditenggorokan. Setelah shalat zuhur aku bergegas ke dapur, makan. Cacing di perut rasanya sudah menjerit-jerit kelaparan.
Selesai sudah. Yah, hari ini ada les computer. Mau tidak mau, rencana tidur siang harus di tunda dulu.
Baru aku masuk ke kamar, kulihat eko, adikku yang kelas dua SD, sedang duduk di ruang tamu. Dia atas meja banyak buku pelajaran yang berserakan, tapi Eko malah sibuk melamun.
“Eh, Ko, alau belajar itu jangan melamun”, tegurku.
“Eko bukannya melamun kak, Eko sedang mikirin PR Eko nih, jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala. Pipinya yang tembem terlihat turun karena bingung.
“Lho, kenapa?”tanyaku sembari duduk disampingnya.
“Kata Bu guru, Eko harus buat cerita tentang cita-cita Eko, tapi, Eko nggak tahu cita-cita Eko apa. Kakak tahu cita-cita Eko…”, jawabnya cepat
“Ehm…gini,, coba kamu bayangkan kalo nanti kamu gede seperti papa, kamu mau jadi apa?” kataku
Eko mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala.
“Gimana kalo dokter?”, aku mencoba memberinya pilihan karena sepertinya dia benar-benar bingung dengan cita-citanya itu.
“Nggak ah, kak, teman-teman Eko sudah banyak yang mau jadi dokter”. Jawabnya.
“Lho, memangnya kenapa kalo banyak yang mau jadi dokter?” sahutku pula heran.
“Yah nantinya pasiennya nggak ada dong kak, semuanya sudah bisa berobat sendiri. Nah, Eko mau ngobatin siapa?”
“Hmm…pilot?”, tawarku lagi.
Eko menggelengkan kepala.
“Insinyur?”
Dia kembali menggelengkan kepala.
“Apa lagi yah,… “ kataku sambil mikir-mikir. Aduh! Jam dinding sudah menunjukkan jam 14.30. hari ini aku ada les computer jam tiga. “Kakak pergi les dulu ya Ko, nanti kakak pulang kita cari lagi cita-cita Eko, Oke?” Dengan sedikit tergesa aku segera kekamar untuk ganti baju.
Tak lama kemudian aku sudah siap. Pas keluar kamar ku lihat Eko sedang asyik nonton televisi.
“Ko, kakak pergi dulu, bilangin sama bik Inah, ya”
“Iya kak. Eh kak, ada nggak orang yang kerjanya mungutin sampah”. Tanya Eko.
“Oh, itu namanya pemulung”, jawabku sambil tergesa-gesa memakai sepatu. “Sudah ya Ko, kakak pergi. Assalamualaikum”, jawaban salam dari Eko tak terdengar karena aku langsung berlari mengingat sudah hampir jam tiga.
* * *
Menjelang magrib aku baru sampai di rumah, soalnya sebelum pulang aku ke rumah echa dulu buat ngerjain PR matematika. Tepat sampai di depan rumah, eskrim yang ku beli di toko Yu Nani pun ludes. Pluk!. ku lempar stik es krim ke tempat sampah,” ah, meleset”, gumamku sambil berlalu pergi ke dalam.
Selesai mandi aku melihat Eko yang sedang asyik menulis.
“Eh, kak, PR Eko sudah selesai’. katanya begitu melihatku.
“O, ya. Hebat dong kamu. Jadi, apa nih cita-cita kamu?” kataku senang mengetahui PR nya sudah selesai.
“Pemulung sampah” jawab Eko polos.
“Hah!”, air putih yang sedang kuminum hampir tersedak mendengar kata Eko barusan.
“Beneran Eko mau jadi pemulung sampah?” tanyaku heran sekaligus tak percaya.
“Iya. Kakak tahu nggak, tadi siang pas kakak pergi, Eko lihat di televisi ada kebanjiran lagi, kak. Dari berita itu, Eko dengar kalo penyebab utamanya adalah timbunan sampah yang menyumbat aliran air sungai. Karena itu kak, Eko mau jadi pemulung saja, biar sampah-sampahnya Eko ambil semua dan sungainya bisa mengalir lagi. Jadi, banjir tidak akan terjadi, yak an kak?” jelas Eko panjang lebar.
Aku yang tadinya agak terkejut mendengar cita-cita Eko juga manggut-manggut sendiri. Benar juga yang dikatakan Eko. Sekarang setelah mendengar penjelasan Eko, aku terperangah.
“Ya ka, kak?” Eko mengulang pertanyaannya.
“Eh, iya”, kataku terkejut.
“Nah, Eko mau mandi dulu ya kak”, kata Eko sambil berjalan ke dalam.
Aku merasa malu didepan adikku, di usianya yang masih delapan tahun, kelas dua SD, dia sudah memikirkan hal yang bisa dia lakukan untuk orang lain. Sedangkan aku, sudah kelas dua SMP masing sering lupa dan kurang peduli pada orang disekitarku. Aku jadi belajar banyak dari Eko. Ah, aku juga jadi termotivasi untuk menjaga kebersihan. Paling tidak, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sampah? Ups! Aku jadi teringat stik eskrim yang meleset dari tempat sampah tadi. Tanpa buang waktu aku segera ke teras.
“Nah, begini baru benar”, kataku pada diri sendiri setelah memasukkan stik es krim itu ke tempat yang seharusnya. Aku janji aku nggak akan buang sampah sembarangan lagi. Seperti kata Aa Gym, 3M. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini.

Desember 1, 2008 at 9:18 am Tinggalkan komentar

NOKENG

NOKENG KENANGAN UNTUK IBU

“Huh”, keluhku. Masih 5 KM alias sekitar satu jam lagi aku mesti berjalan. Aku mempercepat langkahku, hari ini aku akan kerumah Oma Tua untuk meneruskan pelajaran nokengnya. Yah, sejak ibu pergi menghadap Tuhan satu bulan yang lalu aku terpaksa belajar membuat nokeng kepada Oma Tua, salah seorang tetua di suku kami. Sebelumnya, ibuku lah yang mengajari ku membuat nokeng – tas khas orang papua yang di pakai di atas kepala.-. Aneh memang, tapi untuk membuatnya perlu ketekunan besar. Membuat nokeng tidak boleh sembarangan. Ibu jugalah yang memberitahuku tentang itu, kata ibu, nokeng mempunyai motif-motif tersendiri, setiap motif nokeng yang dibuat mengandung arti dan pesan masing-masing. Pada zaman dulu, saat hutan masih ramah, nokeng dibuat dari kayu kecil yang dihaluskan. Tetapi sekarang, karena kulit kayu sudah sulit dicari, maka orang papua menggantinya dengan benang wol.
Awalnya, membuat nokeng sama sekali tidak menarik perhatianku, jika boleh memilih, aku lebih senang ikut ayah berburu daripada harus belajar membuat nokeng, tapi sudah menjadi ketentuan dalam suku kami, Suku Anaminjae yang terletak di sebelah utara papua, kabupaten Timika, bahwa setiap anak gadis Anaminjae harus bisa membuat nokeng. Ibu pertama kali mengajariku membuat nokeng pada saat usiaku menginjak 17 tahun, setahun yang lalu. Waktu itu belum berapa lama dia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Agama yang diperkenalkan oleh seorang kyai ketika bertandang ke suku kami. Dari isteri kyai itulah ibu belajar tentang islam. Menurutku, isteri kyai itu berpakaian dengan aneh sekali. Semua pakaiannya kebesaran, hanya muka dan telapak tangannya yang terlihat. Nama pakaian itu jilbab katanya. Tadinya orang kampong ku, termasuk aku, merasa risih melihat cara berpakaian isteri kyai itu, tapi sikapnya yang sangat anggun, membuat dia bisa diterima di suku kami yang mayoritas penduduknya masih menganut paham anemisme. Ketika ibu memutuskan untuk masuk Islam, ayah sempat marah besar. Bagaimana tidak, ayah adalah kepala suku Anaminjae, dan tiba-tiba saja isterinya sendiri memutuskan untuk meyakini agama lain, yang artinya mengkhianati kepercayaan nenek moyang kami. Saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat keteguhan ibu, dia bersikeras dan memohon pada ayah agar membiarkannya sekali saja untuk bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya. Bahkan, ibu sempat mengatakan bahwa kalau ayah tetap tidak bisa menerima keputusanya, dia ikhlas untuk berpisah dengan ayah. Dan akhirnya, entah karena apa, ayah luluh…
Pada mulanya, sejak ibu menjadi seorang muslimah, aku sedikit enggan dan menjaga jarak dengannya. Aku mengira ibu akan berubah. Tapi ternyata dugaanku salah, dia justru jauh menjadi lebih perhatian kepada aku dan ayah. Dia terlihat lebih optimis dan bersemangat hidup. Hati kecilku sempat bertanya, apa benar Islam bisa membuat orang menjadi lebih baik…?
* * *
Aku sudah keluar dari hutan, sekarang aku tinggal menyusuri jalan setapak, berarti kira-kira 2 KM lagi aku akan sampai di rumah Oma Tua. Aku menyeka peluh di keningku. Aku harus semangat, batinku. Nokengku yang kedua ini sudah hampir selesai dan rencananya aku akan menyelesaikannya hari ini karena pembelinya akan datang hari ini juga.
… Nokeng ini untuk ibu…
Jalan setapak yang rindang membuat aku kembali teringat masa-masa aku dan ibu melewati jalanan ini ketika kami mencari bubuk sagu ke hutan untuk dijadikan bubur sagu, makanan kesukaanku, ketika kami mencari dedaunan untuk obat batuk ayah… Sepanjang perjalanan ibu sempat bercerita tentang masa mudanya, ketika dia mengenal ayah pertama kali, di hari pernikahan mereka. Ya… ibu memang dijodohkan dengan ayah. Waktu itu ibu baru saja tamat Sekolah Menengah Pertama. Tadinya, ibu ingin melanjutkan sekolah ke Kabupaten, tapi ternyata kakek memutuskan lain. Orang tua dari ayah dan ibuku ternyata telah berjanji untuk menikahkan anak mereka demi menjaga tradisi leluhur Anaminjae. Ibu sempat menolak, tapi apalah daya, perjanjian tetaplah perjanjian. Melanggar perjanjian secara sepihak dalam suku kami sama artinya dengan menghina orang yang dijanjikan tersebut. Menghina, berarti menyulut api peperangan. Hingga akhirnya, ibupun menikah dengan ayah.
“Apa ibu menyesal menikah dengan ayah?? Tanyaku waktu itu.
“Awalnya iya, karena akhirnya cita-cita ibu untuk membangun Timika dari ketertinggalan harus padam. Tapi lambat laun ibu mengerti bahwa setidaknya, ibu sudah menolong wanita-wanita Anaminjae untuk tidak menjadi yatim. Karena kalau ibu bersikeras untuk sekolah, bisa jadi, perang antar suku yang sangat rentan terjadi di bumi Timika akan terjadi. Mungkin dengan cara itulah yang Allah berikan pada ibu agar bisa berbakti pada tanah air ibu”.
Saat itu aku merasakan betapa bijaksananya beliau…
Sambil menyusuri jalan setapak itu, Ibu hanya menasehatiku, dia bilang, untuk itu aku harus bersyukur, sekarang wanita Anaminjae punya lebih banyak kesempatan untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka, untuk mencapai cita-cita mereka.
Saat itu merupakan saat terakhir aku dan ibu menghabiskan waktu berdua karena dua hari setelah itu, ibu meninggal dunia karena tersengat kalajengking di hutan. Terakhir, sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, ibu sempat bilang padaku,
“Emma, ibu ingin sekali memakai jilbab seperti isteri pak kyai… tapi sepertinya, ibu tak sempat memakainya di dunia ini, doakan ibu bisa memakainya di hadapan Allah ya anakkku…”
Sampai hari ini, kata-kata itu jugalah yang menjadi motivasiku untuk terus belajar membuat nokeng…
* * *
“Emma!”
Seseorang memanggilku. Aku segera tersadar dari lamunanku. Cepat-cepat aku menghapus air mata yang mengalir sejak tadi tanpa suara dipipi.
Yani. Dia melambaikan tangannya. Dia sudah berdiri didepan rumah Oma Tua.
“Tumben, batinku, biasanya anak ini selalu datang terlambat, cepat sekali dia berangkat hari ini”. Aku membalas lambaian tangannya sambil tersenyum.
Aku bergegas berjalan ke arah Yani. Kenangan bersama ibu yang menemani perjalanan jauh ku tadi membuatku merasakan semangat baru. Yah, nokengku harus selesai hari ini, jadi aku bisa langsung menjualnya. Nokeng itu nantinya kan kuberikan pada ibu, dalam bentuk jilbab… meski dia tak sempat memakainya…
(“tapi mungkin nanti, akulah yang akan memakai jilbab itu untuknya…”, batinku dalam)

By : Sartika Pratiwi (A1B204054)

Jambi, 14 Desember 2007
(Untuk Mama’, my guardian angel di tungkal yang setegar ibu Emma…)

Desember 1, 2008 at 9:16 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Juni 2017
S S R K J S M
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

RSS sastra belitong

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 271 hits

Flickr Photos

A Wave Of Colour

Lebih Banyak Foto

Tulisan Terakhir

Feeds